-123- Nyoba yang lagi Hits: Indomie Abang Adek

Bismillah.

Habis dari Jakarta ya?.

Tidak.

Terus kok bisa nyobain gitu?

Mau tahu?

Enggakkk!

Dan postingan pun selesai 😆 , ya enggak lah, jadi gini…

Dari dulu suka nonton acara memasak dan memakan :mrgreen: . Karena itu saya suka kabitaan kata orang sunda mah. Pengen juga merasakan apa yang saya tonton itu.

Seblak yang saya post sebelumnya juga karena kabitaan ini 😆 . Sekarang apa? Saya lagi pengen nyoba mie abang adek yang menurut tontonan merupakan indomie goreng yang disajikan dengan ulekan 100 biji cabe rawit super pedas. Iya sih lima biji saja buat saya itu sudah masuk makan menderita. Walaupun nagih tapi sebenarnya sudah bingung dengan rasa apalagi menikmati.

Karena saya tahu batas pedas yang masih bisa di tolerin mulut sama perut jadinya cuma pake lima biji. Maksimal lah ya untuk ukuran saya.

Bahan:

  • 1 bungkus indomie goreng terserah rasa apa saja, kebetulan saya pakai yang standar warna merah;
  • cabe rawit lima biji, silakan tambah dan kurangi sesuaikan saja jangan memaksakan diri ikut level pedas mampus nya indomie abang adek yang 100 biji;
  • air untuk merebus mie secukupnya;
  • sayur sawi, opsional;
  • dan telur ceplok opsional yang harus.

Caranya super simpel layaknya memasak mie instan biasa. Hanya di tambah ulekan cabe rawit yang sebelumnya telah di rebus. Cara nguleknya bukan di cobek tapi langsung di piring atau mangkuk saji. Jadi disarankan menggunakan yang dari bahan plastik. Satu lagi, kata si penjual abang adek sih biar lebih enak cara nguleknya harus di pukul-pukul 😀

Jadinya gini nih…

dscn3141

Kok seperti mie goreng biasa? Ya lah ya iya, ini kan mi goreng biasa yang saking biasanya saya cuma tambah lima biji rawit 😆 . Tapi emang pedas tuh lihat yang merah-merah, cuma pedasnya tidak yang seperti saya bayangkan. Saya pikir bakalan pedasss banget ternyata tidak euy!

Dugaan saya sih karena rawitnya di rebus, biasanya kalo rawitnya di olah dulu entah itu di rebus, kukus, atau goreng tingkat kepedasannya berkurang. Benar gak? Dan berikutnya saya coba pakai rawit yang masih segar aduh pedas subhanalloh tidak kebayang yang 100 biji.

Kok bisa pedas ya?

Kapsaisin (8-metil-N-vanilil-6-nonenamida) termasuk di dalam Kapsaisinoid, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa pedas yang ada dalam tumbuh-tumbuhan, seperti cabai. -wikipedia

Rasa pedas yang diciptakan persis seperti kulit kita terkena panas. Beda dengan panas yang membuta kulit tubuh kita terbakar misal jadi gosong, nah, kapsaisin ini hanya rasa jadi bukan benar-benar terbakar sampai ada bukti fisik. Ini saya kutip dari wiki dengan sedikit perubahan.

Lanjut ya masih dari wiki, kapsaisin ini punya skala atau level kepedasan yang namanya scoville, kapsaisin murni mengandung 15 juta Scoville. Menurut Guinness Book of Records, cabai paling pedas adalah jenis Red savina habanero dengan ukuran 577 ribu unit Scoville. Tetapi ada klaim sejenis cabai di India, Naga jolokiayang mencapai 855 ribu Scoville.

kapsaisin sifatnya seperti minyak tidak larut dalam air. Makanya minum tidak segera tuntas menghilangkan pedas. Cara paling ampuh adalah dengan susu atau keju, kasein dalam susu bisa menggumpalkan kapsaisin yang berada di lidah.

Jadi, kalau mau menantang diri dengan tingkat kepedasan jangan lupa siapkan susu, mau tawar mau manis sama saja. Cuma kata yang di vlog-vlog itu paling ampuh pake susu yang gambarnya beruang. Entahlah di coba saja.

Selamat mencoba bagi yang mau nyoba 🙂

 

Advertisements

-121- Seblak Kerupuk

Bismillah.

Sudah pada tahu seblak kan? Makanan yang lagi nge-hits akhir-akhir ini, utamanya di Jawa Barat.

Yang bikin ini makanan terkenal menurut saya ya, adalah level kepedasannya. Bukan seblak namanya kalau tidak pedas. Malahan di kalangan Vlogger ini makanan sering dijadikan challenge. 

Kemarin saya anteng saja gitu nonton challenge-challenge mereka makan ni seblak. Kebanyakan nyoba yang seblak jeletet level 5, paling tinggi nih level kepedasannya. Rada-rada crazy sih, masak makan pedas gitu harus sampai habis tanpa minum, ampun saya mah.

Sebagai pecinta pedas juga harus nyoba banget. Jadi, kemarin juga siangnya saya bikin seblak dari kerupuk udang yang warnanya oren kecil-kecil.

kerupuk-seblak
gambar di ambil dari sini

Bahan: Kerupuk dua kepalan tangan, bawang merah empat siung, bawang putih 2 siung, cabe rawit lima buah, cikur(kencur) secukupnya, telur satu buah, dan gula garam merica secukupnya.

Caranya: Ulek semua bahan kecuali kerupuk, telur, dan gulgar merica. Ulekan tadi di tumis sampai harum dan matang kecoklatan. Lalu masukan telur, oseng-oseng. Masukan air tunggu sampai mendidih. Jika sudh mendidih masukan kerupuk yang sebelumnya telah di rebus sampai lunak. Terakhir masukan bumbu gulgar merica dan koreksi rasa. Jika sudah pas siap disajikan dengan topping bawang goreng dan seledri mmm enak enak enak.

Rawitnya kan lima, saya jarang menambahkan rawit sebanyak ini di makanan kecuali pas bikin sambal, harapannya pedas sekali. Tapi, pas dicoba entah kenapa kok tidak begitu pedas. Pedas tapi yang bukan sampai seuhah gitu. Tidak tahu kenapa, padahal rawit di rumah biasanya biar satu pedas banget.

Resepnya sendiri hasil nge-yutub. Di resep sih pakai royco atau masako. Berhubung tenggorokan saya lagi kurang fit jadi skip yang micin-micin. Ini resep yang paling dasar dari seblak. Selebihnya bisa dimodif sesuka hati. Ya barangkali mau di tambah kaldu atau isinya ditambah sayur dan lainnya.

Seblak kan awalnya dasarnya identik dengan kerupuk, hari ini pedagang sudah mengembangkan varian lainnya. Misal seblak isi sosis, tahu kering, sampai ceker ayam dengan level kepedasan biasanya sampai lima. Tidak kebayang pedasnya seperti apa. Pengen nyoba nih kalau pulang kampung yang level 5 😀

dscn31371
rawitnya kurang banyak sepertinya.
Yang suka pedas boleh di coba, nagih!

-94- Nangka loh ini

Bismillah.

Suatu hari saya pernah lihat orang-orang memperdebatkan sebuah gambar yang yah, mirip nangka di facebook. Kalau saya perhatikan, tidak seperti nangka yang saya kenal. Nangka yang saya kenal itu, kalau di potong tidak lembek, dagingnya juga tidak lembek, dan dia mudah terkelupas dari bijinya sehingga bijinya bersih dari sisa daging nangka. Bentukannya tidak benar-benar yang panjang lonjong, dia panjang memang tapi gemuk kadang juga lebih mirip ke bulat besar.

Hmmm, yang pasti nangka yang saya kenal tidak bisa dibuka hanya dengan tangan kosong. Benar, minimal pisau dapur *itu pun agak susah sih*. Tapi saya suka sekali dagingnya, tidak hanya rasanya tapi juga bentuk dan teksturnya. Tidak lengket ketika di pegang dan “sangat cantik” lah.

nangka_sunlight
gambar dari http://www.sunlight.co.id

Awww, duh ngiler! Sayang saya tidak punya foto pribadi itu di ambil hasil browsing. Padahal dulu kakek saya punya pohonnya dan setiap tahun kami hampir selalu menikmati buah nangka yang lezat ini. Yah, buah nangka salah satu buah masa kecil saya. Jadi, ketika mendapati nangka yang tidak seperti nangka “saya”, saya tidak bisa langsung menerima begitu saja, ngeyel 😛 .

Saya jadi teringat Bapak Iyot kakek saya yang selalu memotong-motong nangka menjadi beberapa bagian yang sama besar untuk dibagi-bagikan kepada semua cucunya. Dan itu sesampainya di rumah, tidak ada acara membuatnya menjadi rupa lain, langsung amblas tak kurang satu jam 😀 . Dan itu rasanya masih kurang :tear: . Kadang berebut juga sama adek 😎

Eh, iya, yang di facebook tadi itu 😀 , si empunya akun tetep keukeuh bahwasanya buah tersebut adalah nangka, nangka!

“Bukan itu bukan nangka, cempedak kali”, ujar saya tidak kalah keukeuhnya, tapinya dalam hati :mrgreen:

Hari yang aneh itu pun berlalu dan saya masih berpendapat itu bukan nangka. Sampai beberapa hari yang lalu seorang teman kantor membawa buah yang katanya nangka. Dibukalah dengan tangan, muncullah dagingnya yang kuning dan aromanya yang menyengat. “Ini buah seperti yang di facebook”, aduh itu sekelebatan pikiran ketika pertama melihatnya 😀 .

Ini nangka lah. Begitu kata si empunya buah dan diangguki teman-teman yang lain. Saya tidak mau, itu buka nangka, hahahaha.

Lupakan, itu memang nangka ternyata. Nangka yang banyak didapati di Indonesia dan Malaysia. Artinya ini nangka memang akan banyak ditemukan di daerah Indonesia yang deket-deket dengan Malaysia, seperti Kalimantan dan saya kira Sulawesi juga lumayan dekat.

Nangka bubur namanya. Yah sesuai namanya daging buahnya memang lembek. Sementara nangka yang saya kenal bernama nangka salak. Keduanya nangka 🙂 . Mau jelas boleh berkunjung ke sini.

Biar lebih yakin saya mau cerita sedikit tentang nangka dari sumber di atas. Nangka ini ternyata diyakini berasal dari….bukan Indonesia, tapi India. Katanya sampai sekarang pohon nangka liar masih banyak ditemukan di hutan hujan India. Nangka sendiri bernama ilmiah artocarpus heterophyillus dan termasuk suku moraceae *lumayan kan jadi tau*.

Varian, oke ini yang penting karena sering menimbulkan perdebatan karena merasa ini bukan nangka lah itu lah. Jadi, varian nangka itu banyak, ada yang berdasarkan perawakan pohon, sifat buah, tempat hidup, dan bagian-bagian tanamannya yang lain 😯 . Nah, umumnya yang mudah didapati adalah ragam nangka menurut sifat buahnya, ada dua:

1) Nangka bubur, banyak ditemukan di Indonesia dan Malaysia. Cirinya, daging buah tipis lembek membubur, berserat, beraroma khas dan tajam,

2) Nangka salak (Indonesia). Cirinya daging buahnya tebal dan tidak lembek, agak keras, tidak begitu harum.

Oh ya, pohon nangka ini bisa tumbuh sepanjang tahun di tempat yang cocok loh. Dia tumbuh dengan baik di iklim tropis. Dia tidak toleran dengan kekeringan, dingin, dan air yang menggenang. Pohon nangka bisa mulai berbuah pada umur dua tahun. Pohonnya berukuran sedang rata-rata tingginya 20m tapi ada juga yang sampai 30m.

klasifikasi nangka
gambar di ambil dari sini.

Jadi clear sudah, sekarang mari kita nikmati nangka bubur ini. Daging buahnya lembek tapi jangan khawatir jika kita membuka yang belum terlalu masak, lumayan enak di pegang kok. Dan enak. Dan kalau di rasa-rasa rada mirip durian. Durian mini.

Coba lihat daging buah yang menempel di biji, mirip-mirip durian.

DSCN1904
daging buah nangka bubur yang menurut saya mirip durian.

Ah, itu bijinya pun serasa durian mini. Dan lagi-lagi menurut saya, sensasinya pun mirip ketika saya makan durian. Lebay sih, tapi ya, itu…

DSCN1907
nah, ini penampakan buahnya. Tidak mirip nangka saya eh, nangka salak.

Jadi itu bukan cempedak *lebih ke diri sendiri yang ngeyel tapi gak nyari tau dulu 😆 *. Hayooo ada yang seperti saya tidak? Clear yah kita, ini nangka!

-87- Mengolah bunga pepaya

Bismillah…

Kebetulan di halaman rumah tumbuh pepaya sayur yang berbunga lebat. Sesekali tetangga minta izin memetiknya. Saya belum kepikiran untuk ikut juga mengolahnya. Sampai suatu hari saya mencoba masakan olahan bunga pepaya dari warung makan. Dan enak! Tidak pahit. Rasanya memang ada pahitnya, tapi samar sekali. Malahan ras pahit yang samar itu menjadi cita rasa tersendiri. Masakan yang saya coba pertama kali adalah tumis kangkung bunga pepaya.

Isenglah saya tanya penjualnya cara mengolah bunga pepaya agar tidak pahit. “Biasa saja, kok mba, di tumis saja di oseng-oseng”, jawabnya simple yang di sambut dengan oh yang panjang dari saya dan tekad untuk mencobanya.

Pas tetangga ada yang ambil bunga pepaya, saya tanya juga cara mengolahnya. Dan tetangga saya pun memberi jawaban yang sama kecuali ia menambahkan, “kata orang sih biar tidak pahit di rebus dulu pake tanah.” Oh, baiklah sepertinya saya tidak berminat dengan saran tanah ini 🙂 .

Saya pun di hari libur, entah itu sabtu atau minggu, bersiap memasak bunga pepaya. Memetiknya gampang, dengan batang kecil yang klek sekali pites menjuntai membuatnya mudah di jangkau. Hanya waktu itu yang bikin ribet ketika memisahkan bunganya dari pangkal. Gimana tidak ribet bunganya kecil-kecil dan banyak, ampun deh! Awalnya saya tarik-tarik bunganya biar tercabut, dan ya, memerlukan sedikit tenaga. Kemudian hari setelah beberapa kali mengolahnya, saya pun belajar.

Dengan penuh percaya diri, saya memasaknya bersama kangkung dengan bumbu oseng kangkung yang biasa: bawang merah, bawang putih, tomat, cabe merah besar, gula, garam, dan merica. Oseng-oseng dan siap. Wanginya harum dan ketika di coba, masya Alloh pahit sekali! pahit! pahit! pahit!

Dan komentar suami saya, “Ya, namanya juga resep rahasia, mana mau lah…”. Iya mungkin bisa jadi. Cuma saya mikirnya, di tengah teknologi super canggih dan kekuatan google, masih ada ya yang main rahasia-rahasiaan. Ya maksud saya, itu kan tips umum, sama seperti cara menghilangkan bau amis pada ikan. Itu kan istilahnya rahasia umum, tips umum, yang yah seharusnya semua orang tahu. Kalau resep rahasia, hemat saya sih, racikannya memang sengaja di cari sendiri dengan berbagai percobaan sampai akhirnya mendapatan cita rasa khas masakannya. Mirip-mirip penemuan lah, sehingga saya sih setuju-setuj saja kalau sampai ada yang mau mematenkan resep nya 🙂

Ya, okelah semua balik lagi ke diri masing-masing. Mari kita berbaik sangka saja, mungkin memang bunga pepaya ibu warung tanpa diapa-apakan sudah tidak pahit. Yang patut saya syukuri adalah karena percobaan gagal itu dan ternyata saya masih penasaran, akhirnya saya tahu.

Saya patut berbangga untuk yang satu ini. Saya tidak tanya siapa-siapa, pun kepada mbah google. Cuma feeling *ealah*. Bunga pepaya nya sebelum di tumis saya rebus dulu bersama garam, sampai air rebusan berwarna hijau. Angkat siram pakai air dingin untuk menghilangkan panas pada air rebusan. Dan peras lah bunga pepaya rebus sampai air nya kering. InsyaAlloh dengan cara seperti ini bunga pepaya tidak pahit lagi, kalaupun pahit, pahit samar, pahit enak 😛

DSCN1643

Kemudian mengenai cara memisahkan bunga pepaya dari pangkalnya. Ternyata cukup dengan di pelintir. Iya, pelintir halus, atau putar si bunga pepaya dan dengan mudah dia akan lepas 🙂

DSCN1638

Hayo apa lagi?

Masaknya, terserah selera masing-masing lah ya. Mau di tumis pakai bawang merah, bawang putih, dan tomat saja enak kok. Di tambah kangkung makin mantap. Atau berkreasi dengan resep lain, mangga silakan bereksperimen sendiri di dapur masing-masing. Sejauh ini saya baru menumis dan menggorengnya ala bakwan.

Satu lagi, kelupaan. Awalnya saya pikir olahan bunga pepaya ini hanya di kenal di sini, di Wakatobi. Karena di kampung saya di Cikijing, di Jawa Barat, belum nemu. Nanya si Emih pun beliau tidak tahu. Cuma pernah denger katanya. Secara kan di Wakatobi sayuran jenisnya terbatas, karena tanahnya itu *karang*. Dan salah satu pohon yang mudah dan banyak di jumpai adalah pepaya sayur salah satunya. Hampir di tiap halaman rumah ada pohon pepaya. Oh, mungkin karena sulit mendapatkan sayur, bunga pepaya pun jadi di olah.

Tapi, ternyata saya salah. Di daerah Jawa, Jogja, Solo, dan lain-lain olahan kates  atau pepaya ini sudah biasa. Mungkin di Jawa Barat pun ada, cuma saya saja yang tidak tahu kali ya.

Oke, selamat mencoba 🙂

PS. Postingan saya akhir-akhir ini tak bergambar:( Bukan sengaja sebenarnya, karena saya belum memindahkan foto-foto ke laptop. Dan minggu ini juga jaringan internet sempat down di Wakatobi. Jadi, ya seadanya. Next rencananya saya mau sisipkan foto-foto. *self reminder*

-58- Mengolah Buah Sukun

Bismillah.

DSCN0649pemandangan di Bawah Pohon Sukun (BPS)

Pada tau kan buah sukun? Buah yang penampakannya mirip nangka dan cempedak dalam size kecil. Lebih sering dikonsumsi dalam bentuk gorengan ketimbang buahnya langsung yang masak. Menurut orang sini karena jarang sekali buah sukun yang bertahan sampai masak di pohon, kalau tidak diambil untuk digoreng, dijual, atau jatuh tertiup angin. Semua opsi berlaku di sini :v  ya di goreng, di jual, yang jatuh pun buanyak.

Di halaman kantor saya -kebetulan saya bekerja di BPS dan akhir-akhir ini saya memang sering bekerja di BPS yang saya sebut di atas kependekannya- ada dua pohon sukun yang sudah sangat besar, buahnya pun lebat sampai jatuh ke mana-mana. Bagaimana lagi si Maryam lagi seneng-senengnya jalan ke sana ke mari dan tempat favoritnya adalah BPS. Terpaksa deh saya juga mangkal di sana :v

Di tengah cuaca terik pohon sukun adalah oase tersendiri. Duduk di bawahnya kenikmatan tersendiri. Mengawasi bocil ke sana ke mari saya asik duduk manis sambil sesekali menatap layar samsong 😀 . Bisa sejaman lah kita di sana. Karena sekarang lagi musimnya ya mau tidak mau kita ketemu juga dengan sukun yang tak berdaya tergeletak di halaman kantor tertutup rapi batako. Sekali dua kali cuek. Karena saya tahu betapa repotnya mengolah buah yang satu ini. Getahnya itu lo!

Tapi sejak salah satu teman di kantor membawakan gorengan sukun dan ternyata enak: renyah kriuk-kriuk dan gurih nikmat lagi dicocol sambel, saya jadi terinspirasi untuk mencoba. Daripada ngemil gorengan dari luar terus sekali-kali goreng sendiri kan lebih terjamin kesehatan dan kepuasannya 🙂

Baiklah jadi akhirnya saya ambil juga satu buah sukun. Barangkali ada yang belum tahu penampakan buah sukun, lihat gambar di bawah ya.

DSCN0645Percobaan pertama lumayanlah masih bisa dimakan tapi masih rada gatal dan tidak renyah. Kedua kalinya saya konsultasi dulu dengan ahlinya. Ternyata biar renyah sukunnya dipotong tipis, setelah dicuci bersih dari getah diberi garam dan digoreng dalam minyak panas yang banyak sampai sukun terendam. Selain itu agar tidak nempel getahnya, ketika memotong usapkan minyak goreng di ke dua telapak tangan dan pisau. Getahnya sangat mudah dibersihkan ketimbang tanpa minyak goreng.

Baiklah ini yang saya baru lakukan.

DSCN0664

Buah sukun dikupas sampai benar-benar putih, hilang semua kulit hijaunya. Belah menjadi dua bagian seperti gambar di atas. Sukun yang telah dibelah dua kembali dibelah dua persis di tengah sehingga menjadi sukun seperempat lonjong :v lalu diiris tipis-tipis sisakan tongkolnya.

 DSCN0719

sukun diberdirikan dan iris mengelilingi tongkol.

DSCN0720

Ini penampakan tongkol. Sudah buang.

DSCN0716Cuci bersih beri garam dapur, campur merata.

DSCN0721

sudah jadi, kriuk-kriuk dan gurih, coba saja 🙂

DSCN0722

Gorengan sukun yang berongga paling atas adalah yang terkriuk dari seluruh bagian sukun. Jadi, usahakan ketika mengiris dapatkan permukaan berongganya.

Segitu saja, mudah, sederhana walau agak ribet karena proses memotongnya yang yah begitulah tapi terbayar: uenakkk!

selamat mencoba.

-39- Resep Rahasia

Saya bilang resep rahasia karena hal-hal yang mau saya ceritain ini baru saya tahu ketika sudah menikah dan menggeluti dunia dapur secara kontinyu dan konsisten *secara masak tiap hari ya*. Dulu, mana mau saya usek-usek di dapur. Tidak tau kenapa kok rasanya membosankan, baru bantu menggoreng pikiran udah ke mana-mana, ingin mengerjakan ini lah itu lah. Jadinya selama di dapur saya tidak pernah fokus. Sekarang, mau tidak mau harus.

Kata kakak sepupu masak mah nanti juga ahli kok, iya sih kebukti, bukan ahli yang seperti chef-chef paling tidak enak untuk dimakan seluruh keluarga. Ahli karena terpaksa dan dipkasa tepatnya. Ngebayangin hal-hal yang berbau paksaan gimana gitu ya, tapi buktinya setelah nikah hal-hal ini yang dulu saya mikirnya keterpaksaan ternyata sangat asyik dijalani. Naluri perempuan atau gimana saya langsung bisa kok menggoreng tanpa gosong, hehe…Intinya jangan takut nikah karena gak bisa di dapur, semua akan berjalan dengan sendirinya.Dan menjalani hal-hal yang baru itu mengasyikan loh, ada saja lucu-lucunya. Heish jadi ngelantur…

Berikut ini resep-resep rahasia saya yang baru saya temukan, entah itu hasil baca-baca di internet, pengalaman sendiri di dapur, atau hasil tanya-tanya temen *yang ini masih jarang*.

1. Dadar Telur

Ternyata menggoreng dadar telur itu akan lebih enak dengan cara begini: tumis bawang merang dan putih, saya ditambah irisan wortel pake blueband. Goreng sampai harum dan kecoklatan. Angkat dan masukkan ke dalam kocokan telur yang sudah dibumbui pakai garam, merica, dan gula pasir. Kocok lagi sebentar, goreng deh. Rasanya lebih gurih, harum bawangnya kerasa banget, dan sayuran tambahannya pun sudah masak. Enak!

Trik ini baru saya dapatkan kemarin, iya baru dua haria saya tahu. Teman-teman sudah ada yang tau belum? atau sebenarnya ini adalah resep biasa yang entah bagaimana saya baru mengetahuiny*sungguh sangat kudet*. Tapi saya bahagia akhirnya bisa membuat dadar telur yang uenak.

2. Mie Instan

Saya dan suami doyan sekali makan mie instan. Gak sehat sih tapi gimana kita suka, hoho. Kita kalo masak mie ya biasa-biasa saja sesuai petunjuk di pembungkus mie nya. Gak yang heboh ditambahin hiasan macem-macem. Paling tambah telur lah standar.

Nyetok mie sudah jadi kebiasaan, soalnya suami juga sering kelaperan tengah malam, alternatif termudah ya mie. Kemarin dulu adik ipar tinggal di sini. Dia itu yang masak mie rada-rada aneh buat saya. Dia itu ya kalau masak mie goreng suka pake kuah yang banyak. Mana kerasa ya bumbunya. Karena penasaran saya punn nyoba dan enak loh! Serius bumbunya tidak terlalu kuat jadinya tapi enak. Karena hal itulh kemarin tidak biasanya saya nyetok mie kuah supermi ingin percobaan seperti mie goreng. Jadi, mie kuahnya dibuat seperti mie goreng tanpa kuah atau dengan sedikit kuah, ternyata enak. Bener enak, coba deh.

3. Tumis Kangkung

Selama ini saya paling malas masak kangkung: malas nyianginnya. Masaknya pun ribet soalnya harus banyak kan karena kangkung ini sebanyak apapun nantinya jadi sedikit tinggal seperempat biasanya. Tak sengaja suatu hari saya masak kangkung, karena malas ngebolak balik saya diamkan saja terus ditutup pake tutp panci wajannya. Setelah layu baru saya bolak-balik. Eng ing eng enak loh. Ternyata resep kangkung yang enak itu menurut saya harus ditutup ketika dimasak. Rasanya lembut aja si kangkung, lembut yang bukan lembek ya. Cobain deh.

4. Tempe Goreng

Saya sepakat ketika adik ipar bilang tempe di sini gak enak. Emang ketika masak tempe gak seenak di kampung kita sih. Saya kalo masak tempe kayak mau bakar daging merah: si tempe setelah diberi sayatan saya lumuri pake garam dan merica, udah gitu aja terus goreng. Rasanya lumayan, tapi saya senang karena praktis, cepat.

Waktu itu saya lagi BW dan ketemu di sini. Si empunya blog juga lagi cerita masalah tempe yang menurutnya tidak enak. Ternyata bukan tempenya kok yang tidak enak melainkan cara memasak kita. Untuk beberapa hal mungkin saja tempenya yang tidak enak. Karena saya penasaran, saya pun mencoba resepnya. Pake bawang putih dan garam terus tambah sedikiiiiiit air *airnya cuma buat bikin lembab*. Potong-potong tempe lumuri sambil ditekan-tekan potongan tempe di bumbu terus goreng. Harus, gurih, hmmm ini dia, ini baru tempe goreng. Enak aja gitu.

Itu rahasianya, hehe. Iya saya tau, mungkin bagi sebagian orang hal tersebut bukan rahasia malah rahasia umum kali ya. Tapi, menemukannya sendiri itu, susah digambarkan senengnya.

Nanti kalau ada yang baru saya mau post lagi. Rahasiah.

#6 Kulinari Kendari Episode 2

Hari kedua di Kendari…
Hari ini saya mau baksonya, iya setiap ke Kota ini saya kangen dengan bakso yang satu ini. Lokasinya, dari perempatan Wuawua kurang lebih 100 meteran lah, letaknya di sebelah kanan. Namanya lupa, bakso apa gitu…Dulu, makan bakso disini itu waaaw banget di lidah, terutama daging sapinya yang berasa dan lembut ketika dikunyah.

Kemarin itu, entah karena lidah saya nya yang masih kurang fit dengan makanan atau baksonya yang berubah…trimester pertama ini, lidah selalu terasa pahit, kadang untuk mengurangi rasa pahit saya selalu ngemut permen mint. Bukannya reda habis ngemut, perasaan malah tambah pahit dan produkai air liurnya jadi berlebih. Tapi ya, ketika diemut sih, emang enak dan ilang pahitnya. Rasa baksonya kurang lembut dan kuahnya hmm…agak hambar. Memang saya minta tidak dikasih micin, saya sudah lama menghindari micin ini. Tapi, kok rasanya hambar ya? Saya curiga jadinya, jangan-jangan dulu itu enaknya karena…? Husnudzon saja, mungkin karena kondisi lidah saya saja yang kurang fit.

bakso mekar wua2
Itu dia penampakan baksonya, kalau lihat bentuknya yang mekar dan teksturnya yang kasar-nampak sekali uratnya  memang mantap. Dulu sekali bakso inilah favorit saya tapi sayang hari itu saya kurang bisa menikmatinya.

Hari ketiga…
Nah, hari ini saya mau coba mall barunya Kendari, Lippo Plaza. Dari tempat bakso tadi lurus saja, mall nya berada di sebelah kiri. Di sana saya ingin sekali makan Es Teler dari Es Teler 77, sudah pada tahu kan kalo yang ini. Ternyata disana pun ada menu mie ayam, hmm saya jadi ngiler. Pesan deh. Rasanya memang maknyus, recomended deh…itu kuahnya saya masukin ke mie nya semua. Terus tambah kecap, saus, dan cuka. Pas nulis ini saya ngeces-ngeces masih hangat rasanya tuh mie masuk di lidah. Kuahnya dikasih semacam saus berwarna orange (kurang tahu saus apa), jadinya kental dan rasanya mmm, sensasinya sulit dikatakan. Mungkin kalau dari tekstur sausnya mirip-mirip bumbu koya. Patut dicoba deh, selain es teler nya tentunya.

mie ayam es teler77

es teler77

Nah, dua menu itu andalan saya di es teler77…

Hari keempat…
Saya mulai bosan dengan menu-menu yang menguras kocek. Ceritanya pas ngangkot lihat tenda-tenda di pinggir jalan. Menunya ada bubur ayam, saya jadi ingat kalau saya mupeng sekali dengan bubur ayam bandung. Tidak apa lah bukan bubur ayam bandunag yang penting bubur ayam. Pengumuman saja di Wakatobi tidak ada yang jual bubur ayam. Buat sendiri juga ribet karena lagi-lagi tidak ada yang jual ayam potongan, hmm…

Mampir deh ke sana, tempatnya asik buat nongkrong. Bangku-bangku menyebar di sekitar taman, menunya pun variatif mulai dari mie ayam, bakso, bubur ayam, batagor, es kelapa muda sampai es teler bandung, selain itu harganya pun cocok di kantong.

Saya pun pesan bubur ayam, satu porsinya Rp8000,- murah kan? ukuran Sulawesi harga segitu itu murah. Terus batagornya juga Rp8.000,- tambah es teler bandung Rp5.000,-. Waah…Rp21.000,- bisa makan berdua, kenyang lagi, alhamdulillah…dan rasanya bener-bener bintang lima- agak lebay si, berhubung dari kemarin kecewa terus dengan makanan andalan saya…

buryam

batagor

Mau kaki lima mau bintang lima, sesuai selera sajahhhh…..

Akhirnya selesai juga, utang kulinari kendarinya…alhamdulillah semoga bermanfaat khususnya buat kamu-kamu yang suka jajan seperti saya hihi…sampai ketemu di kuliner yang lainnya, atau mungkin di masakan saya, berhubung akhir-akhir ini saya lagi hobi nonton Masterchef Australia sama Iron Chef nya Jepang…