-193- Apa Aja

Bismillah.

Pengennya nyerocos gak jelas. Akhir-akhir ini saya tidak bisa melihat perasaan diri sendiri seperti apa. Apakah bulat, kotak, atau bagaimana seperti biasanya. Kali ini bingung banyak keraguan, bimbang dengan pilihan yang harus dipilih.

Kita tidak bisa memilih kapan datangnya masalah. Memilih masalah yang akan datanga. Atau memilih agar masalah datang dengan tanda, agar kita bisa bersiap. Tidak bisa.

Atau datanglah satu persatu, please…! Enggak bisa.

Masalah yang menumpuk itu masyaAlloh nikmatnya.

Di kala seperti ini tiba-tiba ingin buat podcast. Tiba-tiba juga ingan buat video.

Teman nyenggol sedikit tersinggung bukan main seperti orang lagi pms. Saya tidak berniat marah. Tapi kontrol diri sedang hilang, entah ke mana. Cariin dong😭

Tapi saya sudah bikin videonya. Itu bisa bikin syaraf di kepala rada kendor.

Terus sekaranga saya pengen juga bikin podcast. Tapi proyek cerita saya di wattpad gak kelar-kelar. Gak sesuai harapan. Bener banget gak bisa nulis kayak gini kalo gak ada mood plus feeling. Feel nya kalo gak dipupuk hilang. Saya sampe lupa Bayu Anggoro ini karakternya seperti apa. Emang ya paling mudah itu menciptakan karakter disandingkan ke salah satu orang yang kita kenal. Jadi gampang ingetnya.

Bayu Anggoro itu kejadiannya ketika kasus Anang vs Jerinx. Saya malah tertarik dengan karakter Jerinx. Masih mikirin karakter Rafa juga waktu itu. Ketemu thread anak konglo di twitter. Jadi, Bayu Anggoro itu karakternya sekuat Jerinx, seangkuh Rafa, seeksklusif anak konglo. Tapi dia lebih terbuka dengan yang namanya perempuan. Dibanding Rafa yang kaku, Bayu malah terkesan frontal kalau sudah suka dengan seseorang. Cuma dia tahu, hanya sebatas main-main karena sebagai anak konglo dari lingkungan eksklusif masalah jodoh sudah selesai. Beberapa kali dia bertemu dengan perempuan seperti ini. Ia senang dan bermain-main saja. Tidak pernah mengikat mereka tapi mereka senang jalan dengan Bayu Anggoro. Sampai dia bertemu Asma.

Nah, dunia lainnya itu Asma. Bayu tidak bisa melogikakan perasaannya terhadap Asma. Di tengah pergolakan batin Bayu pun dihadapkan pada persaingan bisnis. Ia diharapkan bisa lulus ujian dari papanya sekaligus melogika Asma dan meluluhkan hati mama nya.

Nah, papanya ini enaknya kayak gimana🤔 Apa yang tegas atau yang selow? Ini saya masih bingung. Mamanya sih jelas.

Ah,

Terus saya bikin video. Yaitu ya perjuangan dengan laptop yang kartu grafis nya minim. Mau ngedit lamanya dahsyat. Tapi ya kalo sudah jadi ada kesenangan tersendiri sih. Kayak acara ngobrol jaman dulu sebelum media hiburan selumrah sekarang.

Iya deh postingan curcol. Tapi saya kok jadi happy ya, alhamdulillah. Bombong kata orang jawa.

Advertisements

-192- Dari Purwokerto dan Pengalaman Naik Kereta Kelas Premium

Bismillah.

Pagi semuanya.

Selamat pagi dari Purwokerto.

Banyumas.

Pertama kali. Dan saya tidak ke mana-mana. Di hotel saja. Saya gak tahu juga Purwokerto. Dan rasa kepo saya gak tumbuh. Hehe.

Hotelnya nyaman. Gak tahu kenapa rasanya nyaman sekali. Padahal standar. Rasanya tuh betah. Pegawai hotelnya ramah dan memperlakukan kita tuh gak seperti raja. Ini kadang membuat saya risih. Jadi santai gitu tapi tetap menghormati menghargai. Gimana ya. Atau juga kamar mandinya ada pancuran buat kita wudlu. Terus ada sajadah. Mungkin ya. Karena saya nyaman aja gitu. Padahal hotelnya rame. Bukan main pas hari terakhir datang rombongan wisata dari Tangerang pake dua bus apa ya. Pokoknya rame tapi tetep nyaman. Gimana ya…

Di dalam kamar biasa seperti hotel bintang tiga pada umumnya. Satu yang menurut saya keren. Kamar mandinya. Antara shower mandi dan toilet di pisah dengan kaca dan tembok semata kaki lebih. Itu bagus menurut saya. Jadi air mandi kita tidak membasahi lantai toilet. Rapi. Kan banyak tuh hotel yang cuma memisahkan keduanya dengan ketinggian yang diatur sedemikian rupa. Menurut saya pakai pembatas tembok dan kaca ini bagus. Lebih rapi.

Sampai ke Purwokerto juga jam lima sore. Capek. Sudah deh tidak ke mana-mana.

Nah, benar-benar ke mana-mana itu hari ini. Ahad. Pas mau pulang. Karena saya memilih naik kereta. Tidak ikut teman yang pulang tadi malam pakai mobil. Jujur karena saya mau lebih santai, juga karena pusing. Naik mobil berasa lama dan sempit buat kita bertiga. Mana malam, kan, harus tidur. Kalau desak-desakan kasihan kan. Ya udah lah ya, biar sama-sama nyaman lebih baik saya naik kereta. Dan untuk pertama kalinya saya bakalan turun di stasiun ketanggungan. Lebih dekat ke rumah. Excited banget😊😆

Sepanjang perjalanan dari hotel ke stasiun barulah saya melihat jelas penampakan Purwokerto. Naik gojek jadi lebih jelas. Gak ada penghalang, hehe. Awalnya saya bengong. Biasa saja. Sampai…

“Hey, ini Purwokerto lo… bersih ya…,” batin saya dan langsung memperhatikan.

Benar. Bersih loh sepanjang perjalanan. Dan lengang. Jadi inget Majalengka. Siapa sih bupatinya? Tenang gitu. Kota yang akan dengan mudah menyambutmu.

Turun di stasiun juga tenang-tenang saja. Atau mungkin saya kurang mengamati kali. Karena kan pandangan sekilas dan baru pertama.

Pas kita datang ke stasiun lebih welcome lagi. Jadi di pintu masuknya langsung disediakan pedestrian, mobil, dan motor. Jalur pejalan kaki ini beda dengan stasiun lainnya yang terbuka. Ini dibuat tertutup seperti lorong lurus menuju keberangkatan. Satu kita jalannya nyaman karena gak panas. Saya senang sekali lah pokoknya.

Di dalam stasiun pun tidak terlihat heboh. Hiruk pikuknya itu santai. Atau mungkin sayanya juga yang lagi damai.

Pemandangan dari tempat saya menunggu.

Ruang tunggu di dalam.

Dan ada vip nya dong.

Situasi ruang tunggu.

Kereta yang lain mau berangkat.

Penampakan peron. Barusan saya googling. Peron ini berasal dari bahasa belanda perron yang artinya jalan kecil di tepi jalur kereta tempat lalu lintas orang keluar masuk kereta.

Atap tepat di bawah peron dan jalur kereta. Jam itu mencuri perhatian saya. Bagus ya?

Nah ini saya sudah masuk. Kereta Api Fajar Utama Yogyakarta yang baru kali ini saya tumpangi. Saya dapat gerbong premium. Gak bisa milih karena sisa itu. Penuh. Apa karena weekend, entahlah. Perjalanan ke Ketanggungan menempuh 1 jam 24 menit. Harganya sama saja dengan yang ke Jakarta: Rp225.000,-

Interiornya persis Kaligung yang biasa saya gunakan Brebes-Semarang seharga lima puluh ribu dua jam lebih.

Kelas saya ini premium 3. Baru tahu saya ada kelas premium di kereta. Tahunya cuma ekonomi, bisnis, dan eksekutif, dan katanya ada satu kelas tambahan yaitu sleeper train, atau apalah, googling sendiri😅

Jadi setelah saya cari tahu kelas premium ini bagian dari kelas ekonomi✌️😅 Makanya saya agak, kok mirip kaligung ekonomi? Harga ya mihil karena ini harga Jakarta bo. Di kelas ekonomi itu ternyata ada subkelasnya lagi:

1. Ekonomi 106 seat yang tempat duduknya segelempeng itu. Tahukan model jadoel. Cuma ya lebih nyaman dong sekarang karena lebih bersih, rapi, dan ber AC. Ini enaknya pergi rame-rame sekeluarga karena kursinya hadap-hadapan lebih enak saja kalau ngobrol. Kalau sendirian kok saya capek ya, hehe. Bingung mau mandang ke mana🤦‍♀️ di mana-mana wajah orang. Ya kalau kamu cuek sih gak masalah. Cuma pegel asli kalau perjalan jauh.

2. Ekonomi 80 seat pasti lebih sedikit kursinya. Mungkin jadi lebih lega kali ya? Saya kayaknya belum pernah.

3. Ekonomi new image 2016 nah ini mirip sekali dengan yang saya tumpangi sekarang. Cuma kelas ini hanya melayani jarak menengah. Jadi bener kayak Kaligung itu Brebes-Semarang.

4. Ekonomi premium persis seperti kelas new image 2016 cuma melayani jarak jauh. Harga tentu lebih murah dibanding bisnis dan eksekutif. Tapi ini nyaman kok buat perjalan jauh juga. Leg space nya sempit banget jadi gak bisa selonjoran kayak di eksekutif. Kalau kamu tinggi banget mungkin bakalan sesek. Saya saja yang 148 sempit.

Leg room yang cukup nyaman bagi yang memiliki tubuh mungil.

Jadi pilihlah jenis kereta api yang sesuai kebutuhan dan budget tentunya. Karena kereta api hari ini apapun itu kelasnya insyaAlloh nyaman sesuai kondisi.

-191- Gigi

Bismillahirrohmanirrohiim.

Permasalahan gigi ini seperti sepele tapi sangat mengganggu. Karena saya suka makan tatkala gigi bermasalah itu menderita sekali. Ibaratnya sudah jatuh ketiban tangga pula.

Sampai SMP saya tidak punya masalah dengan yang namanya gigi. Ngunyah pake geraham kanan kiri oke. Tapi yaitu ketika merasa baik-baik saja malah lalai. Makan malam kemudian tidur. Lebih ke ngemil sebenarnya. Itu bahaya yang sering disepelekan. Biasanya baru menyesal kemudian.

Dan SMA lah saya menyesal. Pernah sakit gigi yang sampai susah ngunyah itu pertama kali SMA. Waktu kuliah baru saya benar-benar rawat. Setelah dua geraham terpaksa harus dicabut dan tiga geraham harus ditambal.

Perawatannya pun karena dipaksa dokter gigi. Kalau tidak habis sudah geraham saya.

Karena itulah saya sangat concern dengan gigi Maryam. Itupun masih kecolongan. Satu gigi depannya habis. Dan satunya bolong. Kalo menurut dokter ini dikarenakan setelah minum ASI atau susu tidak segera dibersihkan. Iya sih kadang saya netein sambil tiduran terus bablas ikut tidur.

Setiap malam saya jadi rajin gosok giginya. Kalo sudah gak kuat ke kamar mandi saking ngantuknya, saya gosok saja di kamar.

Beberapa hari ini gigi tetapnya sudah pada tumbuh. Itu terjadi ketika gigi susunya masih nempel kuat. Sudah dua gigi seri bawah yang dicabut karena gigi tetapnya sudah muncul. Dan kemarin saya perhatikan gigi seri atas yang gigi susunya bolong tapi gak copot-copot gigi tetapnya sudah tumbuh. Alamat kan dicabut kembali ke doktet gigi.

Padahal saya dulu kecil pada copot sendiri itu gigi susu. Sekalinya saya punya pengalaman dicabut itu karena punya taring✌️Nah Maryam malah sampai kenal sama dokter giginya. Ya dicabut ya dibersihkan ya konsultasi. Lengkaplah bu haji ini😁

Ini harusnya dicabut. Tapi dia harus sama saya. Gak mau kalo sama Abahnya. Lha saya pergi pelatihan saja malah marah-marah 🤦‍♀️

“Siapa yang gosokin gigi maryam? Siapa yang mandiin pagi? Abah gak bisa…😭😭”

Atuh saya ngekek😂

Iya deh nanti sama ummi ya😘

Saya juga gak pamit ini sama Maryam. Soalnya kalo pamit dia suka derama. Kalo pagi-pagi sebelum berangkat sekolah saya pamitnya dia merengek gak mau sekolah. Ikut ummi saja. Maryam gak mau. Sambil nangis. Nanti sayanya gak tega.

———

Hasil konsultasi ke dokter gigi.

Dulu sekali saya pernah konsul. Boleh gak sih anak saya dicabut giginya. Ya berhubung giginya ruksak banget. Apalagi yang bolong. Kasian kan kalo makan masuk-masuk terus.

Kalo belum lima tahun: Jangan. Karena nanti copot sendiri itu gigi susu. Yang penting dirawat. Kalo malam usahakan sebelum tidur dibersihkan. Pakai air hangat pake kasa biar bener-bener bersih. Biar bolongnya tidak menyebar. Kecuali gigi tetapnya sudah tumbuh duluan terpaksa yang seperti itu harus dicabut. Seperi kasus Maryam.

-190- Marah

Bismillah.

Marah ya wajar. Tapi semakin dewasa marah berganti baju. Kalau dulu sampai teriak-teriak atau bahkan jambak-jambakan kini lebih elegan. Tapi saya belum bisa cool. Iya ada marah yang cool😂 Dia marah dengan diam. Saya gak bisa. Saya tetep harus ngomong. Walaupun tangan gemetaran saking kuatnya nahan amarah.

Seingat saya, saya enggak pernah marah kepada teman-teman kantor. Semarah apapun: saya diam tapi ada sedikit ngomong 😅 Ya itu tadi saya belum bisa benar-benar marah yang diam. Diam🤭. Tapi pernah juga mendapati yang lainnya marah. Dengan yang lain tentunya. Saya sejauh ini belum pernah ngajak orang ribut.

Saya malu kalau harus marah. Begitu juga jika saya yang kena marah. Saya malu. Kalau tidak urgent banget saya sangat menghindari acara marah-marah ini. Palingan saya lampiaskan ke suami. Saya bilang saja lagi marah.

Kemarin. Iya kemarin sekali. Seseorang merusak hari saya mulai pagi sekali. Dan hari itu saya merasakan bagaimana suasana hati yang dirusak sangat mengacaukan seharian itu.

Karena saya sangat marah. Tapi semarah apapun saya memilih menahannya. Buat apa saya balik marah? Toh dengan begini saja saya sudah pusing. Seharian kemarin saya sebal bukan main.

Dan ketika suasana hati tak karuan
perginya ke makanan. Ampun deh.
Mana maunya diet. Please siapapun
don’t ruin someone else’s day😪

Kalau saya balik marah. Mungkin detik itu juga akan plong. Tapi yakin deh setelah itu bakalan merasa sangat bersalah. Jadi daripada membuat beban lagi di belakang. Mending saya pusing seharian itu saja. Terimakasih kepada yang telah memberikan rasa ini. Karena ini saya bisa belajar merasai dan memahami.

Agar marahnya gak meledak pertama kali yang saya lakukan adalah duduk. Saya keinget dengan sebuah hadits: “Bila salah satu diantara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya sudah hilang(maka cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” HR Abu Daud. Kemudian saya curhat. Iya saya harus mengeluarkannya. Saya curhat ke orang terdekat. Suami. Dan teman dekat. Curhat saya lakukan untuk mengeluarkan uneg-uneg. Harus hati-hati emang curhat ini. Karena bisa menyelesaikan masalah atau bahkan menambah masalah. Curhat sama Alloh SWT sih yang paling aman.

Tapi ya namanya manusia. Punya waktu sendiri dalam meredakan amarah. Saya sih enggak lama bisa mereda. Tapi sebelnya sampai sore😁 yang penting gak meledak saya udah sangat bersyukur.

Dari situ saya belajar. Satu jangan marah. Karena akibatnya benar-benar tidak hanya merugikan diri sendiri. Orang yang kita marahi mungkin akan lebih tidak baik kondisinya. Apalagi marah karena hal yang kita lakukan sendiri✌️

Dua kalau mendapati orang lain marah, diamlah! Saya harus mengatakan ini ke diri sendiri: DIAMLAH! Karena kalau kita menanggapi, kita akan ikut marah dan menambah amarah si orang itu. Diamlah sampai reda amarahnya. Karena kemarin saya sahuti orang yang lagi marah: saya jadi marah dia pun kagak reda😂 Jadi kayak nyiram bensin kena sendiri.

Tiga. Siapapun saya, kamu, kita jangan marah.

Karena,

Janganlah engkau marah, maka bagimu surga. (HR Thabrani dalam Al-Kabir).

Selamat pagi and keep happy😊

-189- Etika Berjualan

Kemarin saya beli jus alpukat. Jujur saya kecewa. Kalau saja saya tega, bayar lalu bye gak usah diambil jus nya. Itu lebih menyakitkan daripada tidak mau bayar. Tapi kan saya gak tegaan orangnya😭

Ceritanya si penjual jus ini entah berhemat atau munpung ada yang belu. Dia menggunakan alpukat yang dagingnya keras. Belum matang betul kayaknya itu alpukat. Dia paksa kerok dan itu sampai bersih ke dasar menyentuh cangkangnya. Yang mana biasanya pahit. “Mba, yang pahitnya jangan dimasukin ya,” saya spontan dong bilang. Eh jawabnya, “emang gini alpukatnya.”

🤔🤔🤔🤔

Maksudnya gimana tuh? Saya okelah keras daging alpukatnya. Tapi jangan juga bagian paling bawah yang masih sangat ijo dikerok juga. Pahit dong…

Sudah mah dagingnya keras. Ukuran alpukatnya tidak seberapa. Itu dijadikan dua porsi dong. Airnya banyak. Ya bisa dibayangkan betapa encernya jus alpukat saya.

Ini adalah kedua kalinya saya ke sini. Dulu juga kecewa. Beli jus wortel enggak banget. Cuma diicip doang, sudah gak sanggup. Kan sayang mubazir. Tapi saya mikirnya, sudahlah kasihan warungnya sepi, mungkin sekarang sudah berubah. Ternyata masih sama😑

Pengennya kan kita tuh beli di warung yang deket sama kita. Biar dia juga berkembang. Tapi kalau seperti ini ya belinya sebulan sekali saja. Sedih sih iya. Pendidikan kita ternyata baru sampai duduk di bangku sekolah yang sama.

Pendidikan itu tidak membuatmu tetiba kaya secara materi. Tapi itu membuatmu lebih dihargai. Lebih dewasa dan bijak dalam menghadapi sesuatu. Misal cara berdagang ini. Orang yang berpendidikan sebelum berjualan kemungkinan besar dia akan mempelajari berbagai hal tentang jualannya. Bagaimana lingkungannya, konsumennya, dan tata krama berjualan. Di sini termasuk kualitas barang yang akan di jual, cara menghadapi pelanggan, dan lain-lain. Bukan yang sekedar asal jual.

Apalagi kita seorang muslim. Pendidikan agama itu penting. Karena Islam itu sempurna. Tidak hanya ngajarin kita shalat, haji, dan puasa. Kebanyakan kita kan tahunya ibadah yang terkenal saja. Islam mengatur semuanya. Sampai kamu ke kamar mandi pun diatur loh. Apalagi soalan berdagang yang melibatkan hubungan banyak orang.

Rasululloh juga pedagang. Bukankah idola sebenarnya adalah beliau? Kalo idola ya diikuti dong. Satu deh sifat dagang nabi yang dengan itu saja sebenarnya cukup bagi kita. Apa itu???

NIAT LILLAHI TA’ALA

Kalau niatnya sudah bener maka INSYAalloh kesananya bakalan mengikuti. Niat itu kalau saya ibaratkan kayak tujuan. Kita mau ke mana. Kalo tujuannya karena Alloh SWT saya yakin rujukannya Nabi Muhammad SAW. Enggak mungkin yang lain.

Terus nabi dulu berdagang kayak gimana?

Ya itu tadi. Niat karena Alloh. Setelah itu maka hukum syariat tentang perdagangan akan selalu diikuti. Seperti jujur. Situ kalau dagang barangnya gak bagus harus bilang sama konsumen dong. Kalau dia masih mau beli ya itu rejeki kita. Tapi jangan menyanjung berlebihan barang dagangan kita biar dibeli. Sewajarnya dan seadanya saja.

Harga juga penting banget. Gak bakalan kejadian tuh, viral warung lesehan di tegal kalau dari awal niat jualannya buat ibadah. Karena kita gak boleh loh memberikan harga yang lebih dari kesepakatan pasar, kecuali konsumennya memang mengetahui dan mau dengan ikhlas. Itu bisa menjatuhkan. Ya pedagangnya itu sendiri, parahnya bisa digeneralisasi ke semua pedagang lesehan pinggir jalan. Rasululloh itu kalau ngambil untung sewajarnya. Bahkan kalau ditanya modalnya berapa, Beliau tidak segan mengutarakan. Berdagang kalau niatnya baik, tentu tidak sekedar mencari keuntungan dunia tapi keuntungan yang jauh lebih kekal nanti di akhirat.

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” Asy-Syura:20

-188- Rest Area Banjaratma: Antara Nostalgia dan Harapan

Bismillah.

Haiii ketemu lagi di edisi jalan-jalan. Keluarga kita emang kalo jalan masih yang dekat-dekat. Di sekitaran. Pengen sih jauh sekali-kali. Tapi, kok ya rasanya belum merasa harus apalagi penting, hehe. Kita tuh kadang merasa gak enak hati kalau hanya jalan buat bersenang-senang. Bukan salah. Tapi emang kita gak biasa. Jadi sekalinya jalan-jalan yang jauh itu biasanya sekalian. Sekalian ini sekalian itu😄

Sore di hari sabtu. Setelah rumah tenang. Setelah bocah-bocah pindah bermain ke rumah kaka ipar. Kita bersiap. Saya yang duluan rapi, jemput Maryam.

Perjalanan dari rumah ke Banjaratma kurang lebih lima belas menitan. Dekat khaaaan…Maryam pun tidak sampai ketiduran.

Lokasinya itu, setelah Pasar Banjaratma. Persis di saluran air peninggalan Belanda kita belok ke timur. Ini dari arah selatan ya bukan dari jalan tol pejagan-pemalang. Nah dari sana, sudah keliatan rumah-rumah jadoel yang masih kokoh sebenarnya. Cuma ya gitu, gak terawat. Seratus meter apa kurang ya, pokoknya dekatlah, setelah kita belok itu. Di sebelah kiri, sebelah utara, ada gada-gada. Saya lupa tulisannya apa. Tapi di sana ada gada-gada plus tempat satpam yang usang. Kita masuk saja tuh. Nanti akan disambut oleh beberapa laki-laki yang bertugas menjaga parkiran. Kita dikasih semacam karsis parkir seharga Rp3.000,- Dan itu sekaligus tiket masuk.

Sementara itu, jika kita masuk lewat tol pejagan-pemalang berada di km 260B. Saya belum pernah. Tapi kayaknya aksesnya lebih mudah karena lebih jelas terlihat.

Pertama kali saya ke sini tuh sekitar akhir 2016 atau awal 2017. Saya masih ingat, waktu itu, rumah-rumahnya masih cukup bagus. Bahkan ada air mancur besar di pekarangan salah satu rumah. Dan air mancur itu yang terus tergambar di kepala saya ketika mengingat komplek perumahan pabrik gula. Itu semacam simbol kemakmuran bagi saya. Kejayaan. Dan kini itu tak nampak. Bekasnya sekalipun tak ada. Di halaman perumahan yang berjejer di sebelah barat dari utara ke selatan itu tinggallah puing-puing kenangan kejayaan masa lampau. Kalo di video jadi sedikit seram karena terlihat asap. Memang terlihat beberapa titik bekas bakar-bakar di sepanjang rumah. Walaupun begitu, rumah-rumah masih berdiri, kalo kain mah compang camping. Bolong di sana sini. Pabrik gula riwayatmu kini🙁

Sebelah timur rumah ditanami tebu. Mungkin untuk memasok pabrik gula (PG) yang masih beroperasi di Pangkah. Karena di Brebes ini dari tiga PG sudah habis semuanya. Terakhir yang berhenti beroperasi yang di Jatibarang. Kini menjadi agro wisata. Sedih sebenarnya. Saya pernah ke sana untuk survei. Dan ngobrol dengan manajernya. Nanti insyaAlloh saya post. Ceritanya agak menyesakkan, antara harapan dan kenyataan gitu.

Saya takjub dengan area PG Banjaratma ini: luaaaaasss. Tak terbayangkan betapa hebatnya dulu di sini. Menurut sumber yang saya baca luas keseluruhan mencapai 11ha. Di mana 5ha digunakan untuk area UMKM. Kemarin saya ke sana sudah lengkap. Fasilitas seperti masjid, toilet umum yang modern, tempat kulinari yang lumayan lengkap, SPBU, sepertinya sudah lengkap. Ditambah dengan wisata cagar budaya, tentu menjadi daya tarik tersendiri. Kalian yang sempat mungkin perlu mencobanya. Apalagi yang dulunya pernah mengalami era PG ini masih aktif, perlu banget ke sana dan rasalan sensasinya.

Entah kenapa suami saya malah kecewa. Dulu waktu dia SMP masih mendapati PG. Dia teringat sering menumpang kereta tebu yang melintas ketika pulang sekolah. Entahlah masa kecil saya jauh dari yang namanya kemajuan budaya. Katanya dulu itu di sana ramai. Ramai dengan pekerja. Pabrik yang mengepul. Hangat dan hidup.

Di bangunan itulah pusat belanja sekaligus wisata cagar budaya. Dulunya itu adalah pabrik. Pabrik dalam arti sebenarnya. Di dalam masih ada sisa-sisa bekas pabrik. Tidak banyak dan belum menggambarkan mekanisme kerja pabrik jaman dulu, menurut saya sih. Yang masih sangat terasa tempoe doeloenya itu adalah bentuk bangunannya.

Pintu dan jendela yang tinggi dan besar sebagai ciri khas bangungan Belanda.

Masuk ke dalam kita akan disuguhkan dengan berbagai macam variasi jajanan buat oleh-oleh atau sekedar buat makan-makan. Suasananya pas kemarin kita ke sana sekitar jam lima, tidak begitu ramai. Kebanyakan penduduk sekitar yang jalan-jalan. Oleh-oleh khas brebes seperti telur asin berbagai olahan, bawang merah, dan berbagai kerajinan ada di sini. Makanannya juga lengkap. Hampir semua brand warung makan terkenal di brebes ada di sini, sate pun yang dibakar kayaknya ada.

Kayak gini suasananya.

Ini salah satu spot yang lumayan rame. Kelapa muda sih yang narik banget.

Kalau gak begitu lapar pilihan camilan yang tidak mengenyangkan namun bisa buat badan melar bisa jadi pilihan🤭 Seperti yang saya coba: tempe mendoan. Enak. Daya tariknya bukan mendoan sebenarnya tapi air kelapa muda. Itu yang bikin pengen nyoba. Tapi ya gitu kalau ada minuman berasa aja ada yang kurang, hehe. Air kelapanya seger. Dan pastinya masih muda. Bukan judulnya saja kelapa muda tapi isinya harus dikeruk pakai benda tajam. Ini tuh dawegan kata orang sunda, degan kata orang jawa.

Sebelum kita ngemil kita keliling dulu. Kalau menurut saya jangan terlalu over estimate. Takutnya kecewa. Yang bener-bener masih gaya jadoel itu bangunannya. Selebihnya ya seperti yang sering kita temui stand makanan di mall-mall atau di tempat keramaian yang lain. Dan ada satu kereta tebu yang di pajang di halaman sebelah timur. Dekat masjid.

Yang tersisa dari pabrik gula itu sendiri mungkin gambar di bawah bisa banyak cerita. Karena saya gak ngerti. Menurut saya itu hanya susunan batu bata. Entah dulunya buat apa.

Di luar bangunan pabrik yang masih kentara kunonya adalah dinding yang dililit tetumbuhan. Ini juga lumayan buat foto-foto. Selain juga bakal kita dapati kereta tebu yang dijadikan pajangan dan reruntuhan yang dibiarkan begitu saja.

Spot kereta tebu itu yang paling instagramable makana paling ramai. Foto-foto memang sudah membudaya🙂 Coba saja kamu ke tempat baru kalau gak gatel kepengen foto; hebaaaaaatttt….

Dan bangunan baru penunjang rest area seperti masjid dan spbu berada tepat dekat jalan masuk dari arah tol.

Yes. Itu jalan-jalan kita sore sabtu ini. Kesimpulannya, oke banget buat foto-foto. Buat jalan-jalan melepas penat penduduk sekitar. Dan tentu saja tempat istirahat buat pelancong.

Ini juga menjadi lahan rejeki baru untuk penduduk sekitar. Setelah dulu kecewa karena jualan oleh-oleh turun drastis setelah adanya tol pejagan-pemalang ini. Okelah buat mengobati rasa kecewa. Sasarannya memang UMKM. Yang dulu bisa berjualan di depan rumahnya. Di depan jalan. Kini bolehlah dibilang lebih nyaman. Mungkin. Saya gak tahu, karena harga per stand nya kok mahal banget ya. Apa saya yang salah dengar. Atau mas-mas yang saya tanya menjawab salah. Entahlah. Katanya 14,5 juta per bulan. Bener gak sih? Ada yang tahu? Saya tanya ramai atau enggak, katanya lumayan. Tapi kok rasanya mahal banget ya🤔 Atau saya yang minim ilmu dagang kali ya.

Kalau suami saya kecewa karena ia bisa membandingkan jaman PG ini masih aktif dengan sekarang. Menurutnya, dulu itu lebih keren. Mungkin dari sisi industri. Gula kan termasuk kebutuhan utama. Rumah tangga mana sih yang gak pake gula untuk memanisi kehidupannya😜 Berarti ini usaha penting. Memegang kendali penting. Kalau negara bisa pegang kendali. Hebat. Suasananya juga dulu lebih elegan. Katanya. Ya namanya pengusaha besar sekelas pabrik gula tentu pegawainya dari yang atas sampai rendahan bangga. Ditambah bangunan-bangunan yang megah. Itu aset banget membuat kagum siapa saja yang berkunjung.

Saya sendiri? Saya berdiri di sana. Di pabrik gula yang besar itu. Seperti ada ruang kosong menghempas. Angin yang berdesir seperti terus mengingatkan pada semua artikel dan film pendek yang saya baca dan tonton tentang kejayaan PG di masa lampau. Bisakah ia kembali berjaya??? Kenapa kita hanya bermain di kelas mikro kecil menengah? Pemain besarnya siapa? Bukankah kita ini bangsa yang besar? Please jangan bilang saya meremehkan usaha mikro, kecil, dan menengah. Tak ada sedikitpun niatan seperti itu. Hanya saja kita pernah besar kenapa. Kenapa?

Mahal buk. Kita gak kuat revitalisasi mesin gula. Tapi percayalah dulu itu pernah ada yang mau dan siap bekerja untuk mengembalikan kejayaan masa lampau. Kita pernah berharap. Asa yang indah, paling tidak untuk para pegawai PG. Tapi orang seperti inipun tersingkir. Bayangkan jika kita bisa kembali seperti dulu. Jangan bilang tak mungkin. Bukankah kita pernah berada di bangku sekolah yang sama dengan pesan “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”.

Arghhhh, saya jadi sedih. Semoga. Saya hanya berani berdo’a dan berharap. Sebagai masyarakat biasa. Mungkin hanya itu. Berharap ini tidak sekedar nostalgia yang indah. Tapi menjadi harapan untuk kesejahteraan. Mungkin nanti kita pun akan bangga dengan rest area ini seperti dulu pabrik gula nya. Aamiin.

Dan kumandang adzan magrib mengingatkan kita untuk berhenti. Bye…

-187- Dewasa itu Proses kemudian Pilihan

Be Simpel. Be Yourself.

Beberapa hari ini saya banyak mendengar cerita. Banyak hal yang saya tidak sependapat. Tapi saya menahan diri untuk berkomentar menyalahkan atau sekedar mengatakan begini lho pendapat saya. Enggak. Karena saya merasa itu adalah pendapatnya dan sikap yang ia pilih sekarang.

Selama itu tidak bertentangan dengan agama, saya merasa sah-sah saja. Dan saya pun mulai belajar untuk menahan diri. Alangkah membosankannya jika semua isi kepala sama. Iya kaaaan….

Saya hari ini bukan tanpa sebab. Perjalanan kurang lebih tiga puluh tahun mengantarkan saya ke titik ini. Saya tahu masih banyak kekurangan. Tapi saya juga tahu bahwa hidup bukan sekedar kekurangan dan kelebihan tapi tentang proses dan bagaimana kita mensyukurinya. InsyaAlloh kalau kita bersyukur kita akan selalu belajar untuk mengambil hikmah dari apapun perjalanan hidup ini.

Keputusan-keputusan hari ini tidak bisa saya buat dulu. Waktu saya sekolah menengah misalnya. Saya ingat pernah sebal banget dengan teman yang posisinya waktu itu sekretaris. Kebetulan waktu itu saya sebagai ketuanya. Susah sekali saya mau berkoordinasi dengan dia. Setiap kali kumpul dia ada saja alasannya tidak bisa hadir. Padahal yah jarak rumah kita tuh gak jauh-jauh amat yang harus pake kendaraan. Jaman dulu emang kita selalu jalan. Belum selumrah ini sepeda motor.

Saya benar-benar marah waktu itu. Ngomelin dia sampai kita tuh jadi gak enak. Apapun alasan yang dia lontarkan selalu saya patahkan. Ada masalah lah dengan cowoknya, apalah, saya gak bisa terima. Saya selalu bilang professional dong. Secara saya mah gak tahu pacaran jadi gak tahu juga gimana perasaannya. Bagi saya dia salah. Lagian pacaran juga salah kan? Dan saya ngomong vulgar gitu juga ke dia, “lagian kenapa pacaran. Kan gak boleh, dilarang tahu.” Kalau diingat-ingat sekarang lucu. Saya tuh kalau anak sekarang bilangnya SJW aka Social Justice Warrior, apa-apa harus baik dan benar menurut pemahaman saya yang sebenarnya belum tentu juga bener atau hal yang sebenarnya gak bisa saya paksakan. Hehe. Yang sebenarnya bukan juga urusan saya. Tapi kalau dipikir-pikir apa salahnya mengingatkan? Mungkin caranya saja yang kurang elegant. Dan lucunya ini nular ke anak saya. Dia tuh kadang kayak polisi di rumah kalau lihat yang gak shalat.

Dulu itu saya juga selalu merasa harus begini dan begitu ke teman. Atau ya, ini lucu banget kalau diingat-ingat. Waktu itu ceritanya ada yang naksir, ecieee, hahahaha. Saya tahu gak boleh pacaran. Tapi jujur deh, saya seneng ada yang suka, hahaha. Tapinya juga entah kenapa saya malu banget. Walaupun saya senang ada yang suka, setelah dia ngomong suka ke saya, saya tuh bener-bener gak mau ketemu sama dia. MALU. Ini tuh saya bersyukur banget. Coba kalau dulu saya gak punya malu, mungkin saya pacaran, na’udzubillah. Waktu remaja ini pernah terjadi beberapa kali. Pernah juga yang sampai ngasih-ngasih sesuatu. Tapi saya tetap MALU luar biasa. Kalau lagi jalan, pulang sekolah misal, ada dia di depan sana, saya tuh yang sengaja nyari jalan lain. Walau harus melewati hutan, gak masalah asal jangan ketemu dia😅Lucu tapi saya sangat bersyukur. Alloh SWT telah menjaga alhamdulillah. Saya yakin ada do’a-do’a orang tua di sana. Makanya siapapun yang membaca ini yang sudah punya anak khususnya jangan pernah bosan untuk terus mendo’akan anak-anak kita. Saya yakin selalu ada campur tanganNYA. Berdo’alah. Karena dewasa itu menurut saya ketika kita bisa memutuskan sesuatu dengan benar sesuai yang digariskan syariat. Dan ini gak terjadi secara tiba-tiba. Ada proses yang penuh dengan do’a. Kalau enggak, mungkin akan banyak keputusan hari ini yang melenceng dari syariatNya. So, menurut saya do’a itu penting banget selain usaha yang sungguh-sungguh.

Pernah juga saya berada di titik merasa ini adalah jalan yang paling benar. Tentang bagaimana kita menjalankan agama. Semua harus bisa menerimanya. Padahal banyak jalan menuju Roma. Saya benar-benar pake kacamata kuda. Tapi lagi-lagi saya belum punya pilihan untuk dewasa dalam memilih.

Alloh SWT mengajari hambaNYA dengan cara yang sangat halus. Yang mungkin kita tidak menyadari. Dia mengajari sekaligus menguji kita. Beberapa lulus kemudian bisa mengambil hikmah. Banyak juga saya kira yang gagal.

Dia memberikan saya lingkungan dan teman-teman yang baik. Saya baru sadar kebanyakan teman-teman dekat saya itu sabar-sabar. Saking sabarnya saya pernah berpikir mereka tak punya ambisi. Hidup yang mengalir-mengalir saja. Tidak ada rasa ingin begini dan begitu. Ingin lebih dari si A dan si B. Bahkan mereka tuh jarang bahkan gak pernah ngurusin orang lain atau mempermasalahka pendapat orang lain yang berbeda dengan mereka. Saya awalnya merasa sebal. Kok ada orang kayak gini? Gak punya pendirian menurut saya. Susah diajak ngerumpi. Hehe. Dasar saja sayanya gak bener😅

Dari merekalah saya banyak belajar.

Umur boleh tua tapi kedewasaan itu memang mahal. Dia butuh proses. Sampai akhirnya bisa menjadi pilihan.

Kenapa saya cerita tentang ini? Saya ingin ini jadi pengingat. Terutama buat saya sendiri. Buat anak-anak saya kelak. Atau pembaca juga. Silakan diambil baiknya saja.

Jadi saya dihadapkan dengan seorang pemimpin yang tidak biasa. Dia memimpin di luar keumuman. Orangnya teliti, tekun, disiplin, dan sjw tadi ya. Ternyata orang-orang sjw ini banyak tidak disukai. Kesannya terlalu ikut campur urusan orang lain. Walaupun mungkin niatnya baik. Sampaikanlah walau satu ayat, ballighuu ‘annii walau ayah.

Banyak hal yang ditangani sendiri. Sampai saya pun merasa risih. Hal yang menurut saya bisa dilakukan semua orang dengan cara masing-masing ini diarahkan dan diawasi. Selain itu kedisiplinannya pun menuai pro dan kontra. Lebih banyak kontranya sih. Tentang kerja, kerja, kerja terus. Kebanyakan orang kan maunya santai tapi kerja, sersan gitu loh kata anak jadul. Beberapa kebijakannya pun terasa sangat membatasi. Intinya banyak kontra.

Saya pun pernah sekali dua merasa sedih dan kesal dengan sikap beliau. Alhamdulillah gak lama. Karena setelah saya pikir, itu kan hak dia sebagai kepala mau melakukan kebijakan apa. Toh yang dia lakukan sebenarnya sah-sah saja. Tinggal kitanya mau gimana. Memilih bersikap positif dengan sikap atasan seperti itu adalah yang terbaik. Itu membuat kita gak punya beban dengan dia. Maksudnya ya sudah dia ya dia, kita ya kita. Misal nih, saya mau cuti merasa dipersulit. Dan selama ini alasannya memang selalu masuk akal. Ya sudah kalau memang beliau ada benarnya kalau kita memilih untuk tetap tidak masuk kantor toh kita masih punya hak alpa kan. Tergantung kita mau dipakai atau tidak. Selesai kan. Masalah nanti dimarahi karena alpa, itu masalah nanti lagi. Selama kita masih bisa menjelaskan, kenapa tidak. Dan jangan terlalu memikirkan kebijakannya, karena pada dasarnya kitalah yang memutuskan hendak bersikap seperti apa. Kalau sudah memutuskan ya sudah.

Dengan bersikap seperti ini saya merasa enteng. Merasa tidak ada masalah. Karena, benar kata seorang teman: “masalah itu sebenarnya kita yang buat.” Kita hanya tinggal fokus pada diri sendiri. InsyaAlloh kebaikan itu akan mengalir dengan sendirinya.

Jika masih ada sesuatu setelah kepergiannya berarti kita memang belum selesai. Saya merasa beberapa teman belum selesai. Semoga itu cuma perasaan saya saja yang terlalu sotoy. Wkwkwkwk. Selesai itu ketika kita sudah sama-sama mengikhlaskan dan itu adalah pilihan dari kedewasaan. Pilihan itu terjadi karena kita telah melalui banyak proses. Jika kita merasa belum selesai dengan siapapun, mungkin inilah saatnya bagi kita untuk belajar. Belajar memaknai hikmah atas apa yang terjadi dengan setiap langkah kehidupan kita. Boleh jadi kita banyak melewati proses tapi berapa banyak dari sekian banyak proses itu yang kita berhasil melewatinya. Sehingga hal itu bisa menjadi pilihan kita hari ini agar lebih dewasa dalam memaknai dan menghadapi sesuatu.

Happy friday everyone!