-161- Capres Cawapres Kali Ini

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Asli membuat saya kaget. Mengutip cuitan Pak Mahfud: saya tidak kecewa hanya kaget. Paling tidak sikapnya sangat bijaksana. Kita tidak perlu menyelami hati seseorang kan? Tidak perlu mengira-ngira nanti malah su’udzon. Cuitan nya sudah cukup mengabarkan kepada kita: kaget.

Tidak hanya kubu Pak Jokowi yang membuat kekagetan. Juga Pak Prabowo. Pak Sandi yang wagub itu tiba-tiba yang jadi.

Secara usia dan tampilan fisik rasanya Sandiaga Uno sangat menjanjikan. Kemampuan mengelola bisnis jangan ditanya. Ia salah satu orang terkaya di Indonesia. Tentu bergelut di dunia bisnis. Dunia ekonomi. Karenanya sosok ini mungkin sangat faham bagaimana kapal ini harus diarahkan. Agar masyarakatnya sejahtera. Agar seperti dia yang orang terkaya nomor sekian itu. Walau kita semua tau tidak ada jaminan yang bersifat mutlak. Saya jadi kembali ingat kekalahan Brazil dan Inggris di PD kemarin😌

Sementara di kubu Jokowi adalah KH Ma’ruf Amin. Alumni 212 harusnya tidak asing dengan nama ini. Umat islam pada umumnya minimal tahu nama ini. Beliau ketua MUI. Beliau aktif di NU. Beliau kalau urusan agama tempatnya bertanya.

Harusnya saya tidak kaget. Toh saya tidak benar-benar mengikuti. Tapi beritanya dimana-mana kaka! Tidak mungkin kita tidak tahu. Kecuali tinggal di dalam gua😁

Seperti hari ini. Sabtu pagi yang cerah. Di RS Mahmudah. Nemu ini:

Lihat foto-foto di atas: merinding. Satu foto membuat saya mengkerut. Nah yang kayak gini gak boleh: menebak-nebak ekspresi orang. Padahal mungkin tidak seperti yang di foto.

Ah, kegaduhan lima tahunan itu akan segera dimulai. Atau sudah dimulai?

Kemarin dunia twitter sedikit heboh. Berita tentang cawapres yang belum genap sehari. Membuat gaduh. Mungkin pertarungan itu sudah dimulai.

Seperti biasa tanpa dimau kita semua akan menonton. Selayaknya penonton kita akan ikut semua rasa yang dimainkan. Kita akan senang, sedih, bangga, geram, semuanya akan bercampur dalam perhelatan lima tahunan itu.

Bersiaplah!

Advertisements

-158- Dari Sini

Bismillahirrohmanirrohiim…

Selamat pagi dari Majalengka.

Lha?

Saya akhirnya memutuskan pulang dulu. Istirahat. Buat penyembuhan. Semoga segera diberi kesembuhan, aamiin…

Sakit kepala. Sampai tulisan ini dibuat saya belum tahu karena apa. Tiba-tiba saja. Hari senin pagi seminggu yang lalu. Berarti tanggal 23 Juli. Paginya saya masih ke kantor. Kemudian menyerah jam 8.42. Saya pulang. Kemudian muntah hebat di tengah perjalanan. Hari itu sampai selasa saya istirahat. Tiduran saja di kamar. Berat sekali rasanya.

Hari rabunya saya memaksakan berangkat kerja. Kali ini kerja lapangan. Pikirnya saya: biar plong kalau tubuh ini dibawa jalan dan menghirup udara segar pegunungan. Alamat saya tepar siang-siang, dua jam perjalanan dari rumah. Innalillahi.

Hari itu dan malamnya saya dipijat. Pijatan yang luar biasa sakit. Setelah dipijat dan minum obat saya tertidur. Tapi kemudian bangun kembali berat.

Jujur saya dan suami takut. Tapi selalu berusaha berserah diri kepada Alloh SWT. Semoga apapun ini adalah ujian dan kami diberikan kesabaran dalam menjalaninya. Aamiin. Setelah ini adalah hari yang baru dan semangat yang baru, insyaAlloh.

Saya belum bisa cerita banyak tentang ini. InsyaAlloh lain waktu. Mohon do’anya saja kepada pembaca semua semoga kesembuhan itu segera dan dimudahkan. Aamiin.

Saya mau cerita pagi-pagi ini. Bacaan pertama saya. Tulisan Pak Dahlan Iskan seterusnya saya sebut Pak Dis.

Tulisannya singkat. Sederhana saja. Tentang siapa pesaing Trump kemudian. Tidak ada. Maksudnya belum ada yang benar-benar kelihatan. Tapi bukan berarti tidak ada.

Seperti de javu. Bagaimana tidak di dalam negeri pun rasanya calon masih dua itu saja. Belum ada yang baru. Wajah baru bermunculan berharap-harap cemas dipinang jadi pendamping. Lebih lucu dibandingkan menonton acara lawak hari ini.

Ah, baru saja saya nonton acara tv. Kategori humor. Tapi saya melongo. Apa acara humor hari ini sudah sebegitu tingginya. Saya gak nangkep.

Padahal saya baca tweets masih bisa ngekek. Saya kembali membuka twitter. Tapi memang selalu begitu. Sekedar cari info. Dulu. Sekarang malah cari lawakan juga. Lumayan mengendorkan otot yang tegang.

Baru-baru ini viral cerita seseakun yang mengaku mantan personal asistant nya orang paling kaya di negeri ini. Ceritanya mengingatkan saya pada drama korea Boys Before Flowers. Hahaha. Tiba-tiba saja ingat Gu Jun Pyo. Ini lucu. Saya ketawa dengan pikiran sendiri.

Padahal tertawa itu sederhana ya? Status sederhana. Hal lumrah di keseharian bahkan bisa membuat terpingkal. Tapi lawakan dengan teks dan gimmick dan katanya spontanitas malah gagal membuat saya tertawa. Mungkin saya terlalu receh. Tidak bisa menjangkau itu.

Tentang tulisan Pak Dis itu. Katanya, harapan itu datang dari seorang walikota LA. Ah, saya tidak tahu. Saya bahkan hampir tidak pernah lagi mengikuti perkembangan politik. Bahkan yang sedang hangat di dalam negeri. Entahlah. Rasanya belum berfaedah minimal untuk saya sendiri. Hanya kekesalan dan nyinyiran malah kurang bagus.

Saya hanya mau bilang: setidaksukanya kita dengan seorang pemimpin sebut saja Trump yang memang banyak sekali orang tidak suka, tapi tetap saja dia pemimpinnya. Aturan dan segara prosedural telah membuat dia menjadi pemimpin. Jadi, seperti itulah yang akan terjadi dimanapun ketika keputusan terbanyak itu dijadikan patokan. Dia tidak akan melihat baik-buruk. Yang ada menang kalah.

Saya melihat acara lawak sekarang pun begitu. Antar pemain. Mana yang lebih unggul dia yang menguasai acara. Menang kalah.

Padahal kalo mau ngelawak mah simple saja ya. Tapi kata Steve Jobs justeru yang simple itulah yang membutuhkan pemikiran lebih. Sederhana itu ketika apa yang kita maksud mudah diterima yang lain.

-66- Pak Presiden

DSCN0323pic credit to Abah

Lagi asyik mainin instagram, kepoin orang-orang tak sengaja nemplok di fotonya Bu Ani. Dan keterusan liat hasil-hasil jepretannya. Liat aktivitasnya Bu Ani dan Pak Beye sekarang, “Pak SBY sangat diuntungkan dengan presiden yang sekarang”, spontan saya berfikir seperti itu.

Entahlah mungkin pemerintahan yang sekarang belum terlalu terlihat kinerjanya kan, baru seumur jagung *ngomong-ngomong sudah berapa lama ya?, maklum sudah lama tidak mengikuti berita*. Jadinya masyarakat masih sering membanding-bandingkan.

Tapi ya kalau dipikir-pikir presiden yang berhasil memimpin saya kira baru tiga. berhasil dalam pandangan saya adalah kinerjanya diingat dan ada hasilnya. Siapa saja mereka? pertama menurut saya adalah Pak Karno. Bagaimanapun Indonesia di tangannya sangat tangguh. Bangsa kita pada masanya dikenal dunia dan terhormat. Banyak proyek-proyek ambisius pada masanya, ambil saja monas, yang kelak menjadi sangat mengukuhkan kehormatan bangsa.

Orang kedua tiada lain tiada bukan adalah Pak Harto. Apapun yang terjadi di akhir masa pemerintahan tapi title bapak pembangunan memang pantas untuk beliau. Pada masanya Indonesia terasa sangat sejahtera. Bahkan saya tidak ada keinginan untuk pergi ke luar negeri karena saking betahnya di tanah sendiri. Situasi aman terkendali. Walaupun banyak yang menyayangkan tindakan-tindakan kerasnya misal, katanya, sering menciduk preman dan lalu entah dibuang ke mana. Tapi tindakan tegas seperti ini kadang perlu, tinggal eksekusi akhirnya yang diperbaiki. Dan tentu kehilangan-kehilangan yang lain yang memang tidak perlu terjadi. Tapi, harus kita akui pada masanya Indonesia benar-benar berkembang. Kita tidak perlu menista seseorang secara keseluruhan kan? Karena kalau kita ingat akhir pemerintahan kedua presiden ini tidaklah bagus. Pak Karno tidak mulus menyelesaikan pemerintahannya pun dengan Pak Harto. Tapi jiwa dan semangat kepemimpinannya dan hasil yang telah mereka torehkan akan kita kenang sepanjang masa.

Dan yang ketiga adalah Pak SBY. Ini menurut saya presiden yang bekerja berdasarkan prinsip jawa pelan-pelan asal kedalon. Di awal pemerintahannya euforia kemenangan masih terlihat. Masayarakat tidak terlalu peduli, waktu itu kita benar-benar sedang mencari-cari sosok pemimpin setelah orde baru tumbang digantikan dengan refotnasi eh reformasi *garing ah 😀 * Tapi beneran loh sempat juga kita ini repot nasi. Di tengah-tengah pemerintahan mulai diguncang dengan berbagai aksi demo. Tapi beliau masih santun dan terus melaju. Kabinet pertamanya terlihat masih bagi-bagi jatah. Tapi di kedua kalinya menjabat, beliau benar-benar menunjukkan jiwa kepemimpinannya tapi masih dengan kesopanan kuat ala timur. Iya masih memberikan jatah untuk partai pendukungnya tapi pinternya, beliau ini menambahkan jabatan baru yaitu wakil menteri. Saya kira ini bukan jabatan asal-asalan karena kalau kita lihat orang-orang yang duduk di jabatan wakil menteri adalah mereka yang kita sebut sebagai ahlinya. Iya, dari merekalah keluar ide-ide cemerlang. Tapi, tidak semua menteri adalah bagi jatah, beberapa  menteri seperti BUMN persis dipegang profesional dan praktis BUMN benar-benar mengalami perubahan yang signifikan. Saya pun tidak akan lupa dengan menteri pendidikannya Muhammada Nuh, dia benar-benar bekerja. Banyak programnya berjalan dan sebenarnya sangat bagus kalau saja dia diberi peluang lebih lama. Sayang progam-programnya dihentikan pada masa pemerintahan yang sekarang dan katanya dikembalikan seperti sedia kala. Sesuatu hal baru butuh waktu untuk terbiasa dan berhasil, begitu pula dengan program-programnya Pak Muhammad Nuh.

Ketiga presiden tersebutlah saya kira yang kinerjanya dirasakan. Di sinilah kenapa saya tiba-tiba terpikir Pak SBY beruntung. Dibanding pemerintahan sebelumnya yang berakhir dengan tragis Pak Beye malah dieluk-elukan di akhir masa jabatannya, salah satunya karena kinerja pemerintahan sekarang yang diharapkan jauh lebih baik karena label “merakyat”nya belum sama sekali terlihat. Kinerja Pak SBY walaupun lambat tapi pada akhirnya kita semua merasakannya. Ketampanannya tidak membohongi kok 😛 .

Suka ataupun tidak ketiganya tumbuh dari lingkungan militer. Bukan berarti militer lebih baik dalam hal kepemimpinan tapi saya mau bilang bahwa jangan dulu kita menilai jelek jika ia datang dari kalangan militer karena kita tentunya tidak boleh melupakan sejarah. Kata Pak Karno jas merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah, iya mereka kalangan militer ternyata telah memberikan bukti kepemimpinan. Jadi, kenapa kita harus antipati dengan militer hanya karena satu dua masalah atau bahkan banyak masalah? memang di situ bukan militer tidak pernah berlaku salah? Ingat dong kepemimpianan yang sudah-sudah? Sudah berlalu presiden-presiden kita yang nonmiliter, tapi apakah mereka lebih baik? Sejauh ini belumlah ya. Saya bukan pro atau anti hanya saja saya gerah dan geli melihat pemilu yang kemarin. Memojokkan seseorang karena kemiliterannya adalah hal geli yang saya temukan 😛

Kita pernah dipimpin oleh seseorang yang sangat pintar, sangat agamis, sangat misterius, sangat militer, dan sangat biasa…Mudah-mudahan bangsa kita menuju ke arah yang lebih baik. Bagaimanapun presiden telah terpilih, ini demokrasi cuy, inget siapapun bisa terpilih sebagai pemimpin kita, situ milih dan banyak masyarakat yang lain pun memilih dan siapapun pemenangnya saya kira amanat demokrasi harus mendukungnya tentu tanpa lupa dengan kritik yang “membangun”. Ah ini demokrasi teman, situ mau apa? 😀 😛

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

________________________________________________________________
RALAT

Tiba-tiba teringat bahwa titel Pak Karno adalah insinyur, ish, bisanya saya tulis beliau dari militer *maafkeun*. Kemarin pas nulis, saya hanya membayangkan zaman ketika Pak Karno memimpin, kok bisa, kan, belum lahir? Iya pas liat film nya Soe Hok Gie dan G30S yang belum kelar-kelar ditonton. Yap, Pak Karno memang dari kalangan sipil tapi gaya kepemimpinannay lebih militer dari yang militer itu sendiri.

Jadi, maklum ketika orang sedikit bingung dengan latar presiden pertama kita *ngeles 😀 * . Tapi tetap ya ketiga presiden kita ini tidak bisa lepas dari dunia militer. Bisa jadi, hal ini mengindikasikan bahwa kita lebih patuh ketika yang memimpin kita dari kalangan militer atau non militer dengan gaya militer, karena lebih tegas? Tapi, sebenarnya bukan militer atau nonmiliter, pada dasarnya seorang pemimpin itu apapun latar belakangnya harus memilki sikap tegas. Ingat kan film nya Umar bin Khattab, dia digambarkan sebagai pemimpin yang tegas, berkata ya ketika memang benar adanya dan berani berkata tidak jika memang tidak begitu.